24.7.13

Mencoba Mengundang Karya Berkualitas

Pertanyaan kritis Pak Pri menjadi sesi takjil tersendiri pada pertemuan klab keenam Jumat (19/7) lalu. Pertanyaan yang sudah lama mengendap –“Karya yang baik itu, karya yang seperti apa sih?”–  terjawab sudah.

Sophan Ajie yang mengacu pada pemikir hermeneutika Paul Ricouer, menerangkan bahwa semua itu bertolak pada tafsir bahasa/teks dari karya itu sendiri yang mengandung ketaksadaran kolektif (collective unconscious). Ketaksadaran kolektif tersebut merupakan kumpulan lapisan-lapisan pengalaman ataupun makna yang terkumpul secara tidak sadar oleh manusia. “Ketika karya Pak Pri membicarakan tokoh aku dengan perempuan lain, nah kata perempuan lain tersebut dalam konteks ketaksadaran kolektif menimbulkan persepsi yang negatif atau tidak baik. Contohnya lagi, ketika bericara PKI identik dengan kejahatan atau komunisme. Itu merupakan ketaksadaran kolektif”, contoh Sophan Ajie. Selanjutnya